Rabu, 08 Juni 2016

STRATEGI PEMASARAN TOKO BUKU BINA ILMU SAMBI KEDIRI



STRATEGI PEMASARAN PADA TOKO BUKU BINA ILMU KEDIRI
            Toko buku memiliki banyak kajian dalam pemasarannya. Kajian tersebut memiliki perbedaan dalam meningkatkan omset penjualan. Omset penjualan dipengaruhi oleh strategi yang digunakan dalam toko buku tersebut. Terdapat dua bentuk strategi pemasaran.   
Bentuk pertama adalah strategi pemasaran yang di teliti menurut Cahyo[1], Hakim[2], Hartini[3], Oktavianto[4], Meida[5], Safitri[6], Pongngalla[7], Rivai[8], Handayani[9]. Bentuk kedua penelitian yang dilakukan oleh Fahmi[10], Jaman[11]. Penelitian ini berfokus pada Strategi pemasaran produk buku pada “Toko Buku Bina Ilmu Kediri”.
            Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan sistem yang ada di dalam toko buku Bina Ilmu. Toko buku Bina Ilmu memiliki sistem yang masih sederhana. Hal ini dipengaruhi sistem operasional yang kurang memadai. Bina ilmu menggunakan sistem manual dalam pelayanannya. Toko buku memiliki keunikan dalam pemasarannya. Ia menjadikan sistem WOM (Word Of Mouth)  sebagai alat menjalin pelanggan. Sistem WOM (Word Of Mouth) merupakan srategi pemasaran yang masih bersifat massif, namun ia memiliki efek yang besar dalam sebuah usaha.
            Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Objek penelitian ini berlokasi di Kediri perbatasan Blitar. Dengan cara ini, diperlukan informasi yang mendukung penelitian melalui survei lokasi, wawancara dan rekaman(penulisan).
            Penelitian ini dilakukan di lokasi Toko Buku Bina Ilmu. Ia beralamat di Desa Ringinrejo RT/RW 02/03, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. toko buku Bina Ilmu berada di lokasi yang sangat strategis. Ia berada di tengah lokasi yang dekat dengan pasar, pesantren, kantor kecamatan, dan sekolahan.
 Toko Buku Bina Ilmu merupakan toko buku satu-satunya di desa tersebut. Hal ini memiliki peluang tersendiri dalam menarik pelanggan di dalam masyarakat. Ia bergerak lebih leluasa tanpa adanya pesaing dalam penjualannya. Ia melakukan promosi yang sederhana dalam penjualannya. Promosi ini adalah WOM (Word Of Mouth) dan kenalan semata. Hal ini menjadikan toko buku Bina Ilmu kurang efektif dalam strategi penjualannya.
Word Of Mouth (WOM) merupakan strategi menunggu bola. Setrategi ini memiliki sistem yang massif, namun ia memiliki efek besar terhadap suatu usaha[12]. Strategi ini merupakan sistem yang kurang efektif. Ia menggunakan sistem pemasaran dengan cara menunggu bola. Hal ini memiliki potensi keuntungan yang besar, jika ia menggunakan sistem menjemput bola dalam pemasarannya.
Toko buku Bina Ilmu membutuhkan terobosan baru untuk meningkatkan volume penjualan. Ia memerlukan strategi dalam memasarkan bukunya. Hal ini menjadi suatu alasan tersendiri dalam meneliti usaha tersebut.
 Wawancara ini dilakukan berdasarkan letak geografis dan rancangan konsep yang masih sederahana. Wawancara dilakukan untuk mengetahui informasi secara rinci dari informan. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan tanya jawab kepada informan.
Informan kunci dalam penelitian ini adalah Hj. Rukoyyah. Seorang wanita berumur 38 tahun. Penelitian dilakukan dengan survei lokasi, wawancara dan rekaman (pencatatan).

Hasil Penelitian

A.    Strategi Pelayanan Produk
Pedagang menggunakan strategi Word Of Mouth (WOM) serta relasi perkenalan yang sangat luas. Pedagang memberi pelayanan seramah mungkin terhadap pembeli. Pedagang menggunakan kelengkapan koleksi buku dalam pemasarannya. Koleksi buku yang lengkap memberi penilaian yang penting dalam membangun branding toko buku.
 Usaha buku memiliki tingkat kerumitan dalam produk. Produk buku mengalami kurikulum terbaru setiap tahunya. Kitab-kitab mengalami periode terbaru dalam percetakannya. Managemen sistem yang digunakan masih bersifat manual. Misalnya, kategori buku islam disatukan dengan kategori buku kesehatan. Kitab-kitab menggunakan berbagai judul pegon dan seni kaligrafi arab dalam judulnya. Hal ini dibutuhkan ketelitian supaya tidak salah dalam melayani pelanggan.
Toko buku Bina Ilmu menjadikan kelengkapan produk dalam menarik pelanggan. Pelanggan memiliki kepercayaan kuat terhadap toko buku yang selalu ada ketika pelanggan butuh. Bangunan toko didirikan sebesar apapun, namun koleksi produk tidak lengkap membuat pembeli kecewa. Pembeli datang ke toko untuk membeli suatu produk, namun ia tidak menemukan barang yang dibutuhkannya di dalam toko. Hal ini menjadikan pembeli kecewa dan enggan untuk datang kembali.
Toko buku Bina Ilmu menjadikan mesin foto copy sebagai media pemasaran. Foto copy merupakan usaha yang paling laku di bandingkan buku. Hal ini dipengaruhi oleh lokasi yang strategis yaitu; letak Pasar, Kantor Kecamatan, Sekolahan, dan pesantren.
 Para pegawai dan murid membutuhkan jasa foto copy untuk berbagai macam keperluannya. Hal ini menjadikan pajangan buku, kitab, peralatan tulis, Al-Qur’an sebagai alat untuk menarik minat dalam membeli.
 Pembeli melihat pajangan yang menghiasi rak-rak dan eltalase mendorongnya untuk bertanya perihal produk. Ia menanyakan suatu produk minimal masalah harga. Pembeli datang untuk sebatas foto copy dalam toko buku, namun ia memiliki kebutuhan, ketika ia melihat produk yang di pajang, ia merasa sesuai dengan yang di butuhkan, sehingga ia datang ke toko buku membeli produk dan foto copy.
Toko buku Bina Ilmu memberi dispensasi dalam penjualan buku. Hal ini dilakukan penjual dan pembeli melalui perjanjian yang telah disepakati sebelunya. Dispensasi ini berupa kesalahan dalam produk. Produk ini telah dibeli oleh pelanggan, namun pelanggan tersebut membuat perjanjian sebelumnya untuk mengembalikan barang tersebut, jika ia merasa tidak cocok di kemudian hari. Hal ini memiliki jangka waktu yang pendek minimal dua hari setelah pembelian, maka buku tersebut boleh dikembalikan lagi dengan berbagai syarat. Pertama, penjual tidak melayani ketika produk dikembalikan lebih dari 2 hari. Kedua, produk tidak diterima ketika dalam keadaan cacat atau rusak.
Pembeli memiliki hak dalam menilai kinerja sistem yang ada di dalam toko buku. Sistem yang memiliki keunikan tersendiri ketika sedang antrian foto copy. Pembeli diperbolehkan membaca buku untuk dibaca ketika menunggu antrian fotocopy. Antrian ini membuat pembeli merasa jenuh ketika menunggu. Hal ini menjadikan toko buku memberlakukan sistem tersebut.
 Pembeli tidak diperbolehkan membawa pulang buku yang dipinjamnya sebelum sah untuk di beli. Demikian ini menjadi alasan penting foto copy dalam strategi pemasaran produk.

B.     Strategi Harga Produk
Harga merupakan jumlah yang dibutuhkan untuk memperoleh produk atau pelayanan. sehingga pendapatan di peroleh melalui penjualan dalam kegiatan usaha[13]. Harga memiliki pengaruh dalam membangun branding yang positif. Harga berpengaruh terhadap kualitas produk.
Toko buku Bina Ilmu menjadikan harga sebagai alat untuk strategi pemasaran. Ia memberi harga pada produknya dengan harga standar tinggi. Standar tinggi yang di maksud dalam toko buku tersebut. Ia memberi harga tinggi namun masih dalam kewajaran tergantung produk yang dijualnya. Produk langka memiliki potensi harga yang cukup mahal. Kelangkaan produk memberikan nilai jual yang sangat mahal.
Toko buku Bina Ilmu merupakan satu usaha yang tidak ada pesaingnya. Hal ini merupakan peluang besar dalam usaha tersebut karena belum ada pesaingnya. Ia memberi harga standar keatas untuk memperoleh keuntungan. Pembeli merasa keberatan dalam sebuah harga yang ditawarkan. Sehingga, pembeli melakukan sebuah tawar menawar dalam membeli buku tersebut. Buku yang ditawar tidak akan diterima,  ketika pembeli datang membeli buku hanya satu kali. Penawaran berlaku bagi pelanggan setia toko buku Buku Bina Ilmu. Pelanggan berperan penting dalam menyebarkan informasi branding toko buku yang positif. Hal ini menjadikan media dalam promosi. Promosi yang dilakukan melalui mulut ke mulut, perekomendasian, dan penilaian pelanggan terhadap toko buku.
            Perekomendasian berdasarkan kesan yang muncul dalam benak pelanggan. Kesan tersebut memiliki pengaruh terhadap kenyamanan pelanggan. Kenyamanan ini dilakukan oleh penjual terhadap pembeli yang dilayaninya. Rekomendasi berperan penting terhadap pemasaran usaha toko buku.
 Pelanggan merekomendasi kesan positif terhadap toko buku. Kesan positif yang dimilinya akan di ceritakan kepada tetangga, sahabat, saudara dan temannya. Pembeli memperoleh kesan positif melalui pelayanan, kualitas produk, dan harga produk yang dibelinya. Hal ini menjadikan pelayanan produk sangat penting dalam bisnis toko buku “Bina Ilmu”.
Pembeli memiliki penilaian tersendiri terhadap sistem penjualan yang digunakan oleh toko buku tersebut. Sistem penjulan mempengaruhi strategi pemasaran yang di lakukan oleh toko buku Bina Ilmu. Hal ini penjualan sangat berperan penting terhadap pelayanan dan kenyamanan seorang pembeli. Pembeli menjadikan faktor kenyamanan sebagai tolak ukur untuk datang lagi di kemudian hari. Pembeli awal memerlukan penyesuaian waktu. Penyesuaian waktu ini menyebabkan pembeli untuk bisa di akui sebagai pelanggan. Pelanggan ini memiliki keistimewaan tersendiri ketika membeli di toko buku.
Sistem penjualan yang dijalankan toko buku tersebut sangat sederhana. Sistem ini memiliki banyak kekurangan, jika dibandingkan dengan toko buku terbesar dan ternama di Indonesia. Toko buku ini menjalankan sistem pemasaran yang masih sederhana. Toko buku menggunakan sistem WOM (Word Of Mouth) dalam strategi pemasarannya.
Sistem WOM memiliki strategi komunikasi yang berorientasi kepada konsumen. Komunikasi ini bersifat personal. Sistem WOM merupakan fenomena dan gagasan yang telah ada sejak lama. Hal ini menjadikan sistem WOM sebagai kunci dari strategi pemasaran dalam suatu usaha[14]. Toko buku menjalankan sistem ini sejak awal mulai berdirinya usaha tersebut. Usaha tersebut memiliki perkembangan promosi yang meningkat setelah empat tahun lamanya. Ia menggunakan sistem WOM dalam perkembangannya dalam promosi.
Sistem WOM berfokus pada giver (pemberian) dan receiver (penerimaan) dengan transaksi yang sah dalam proses jual beli. Pemberian ini dilakukan penjual terhadap pembeli dalam berlangsungnya transaksi jual beli. Sistem WOM merupakan dasar dari perdagangan sebuah usaha. Hal ini menjadi sebuah strategi yang disadari atau tidak disadari. Pedagang menggunakan strategi tersebut untuk mengikat pelanggan.
Toko buku Bina Ilmu menyadari akan pentingnya sistem WOM dalam usahanya. Sehingga, ia menjadikan pelayanan sebagai media pengikat pelanggan melalui sistem WOM.
 Analisis Hasil Penelitian
Jual beli menurut konsep mengacu pada pemahaman sebuah pasar. Pasar ini terdiri dari pelanggan potensial dengan kebutuhan atau keinginan tertentu. Hal ini mampu mengambil bagian dalam jual beli guna memuaskan kebutuhan atau keinginan tersebut[15].
Pasar ini tergantung pada kebutuhan suatu masyarakat. Kebutuhan ini memiliki sumber daya yang menarik. Ia menyediakan sumber daya tersebut untuk memperoleh apa yang diinginkan oleh masyarakat.
Pemasar merupakan pihak yang aktif dalam menciptakan situasi jual beli. Pemasar merupakan pihak pertama. Calon pembeli merupakan pihak kedua. Pemasar merupakan seorang yang berusaha memperoleh sumber daya dari orang lain. ia mau menawarkan sesuatu yang bernilai sebagai imbalannya. Pemasar berusaha memperoleh tanggapan dari pihak lain. Hal ini memiliki tanggapan yang positif maupun negatif dalam menjual atau membeli produk. 
Jual beli merupakan pengelolaan proses yang diperlukan dalam upaya dan keterampilan. Pembeli memiliki kemahiran dalam memilih kebutuhan rumah tangganya. Ia memiliki peran untuk melakukan penjualan: kendaraan yang dijual, jasa pribadi mereka yang dijual.
Penjual perlu adanya organisasi yang professional dalam menangani proses jual beli. Ia memiliki peluang untuk menarik sumberdaya dari seperangkat pasar. Ia menjadikan produk yang berfaedah. Ia menjual produk di pasaran. Pemasaran di lingkungan pasar pelanggan dilaksanakan oleh manajer penjualan, perwakilan penjualan, promosi, peneliti di bidang pemasaran, manajer produk, manajer pasar, wakil presiden pemasaran. Jabatan ini mengandung tugas dan tanggungjawab yang dirumuskan secara jelas. Pekerjaan ini mencangkup pengelolaan sumber daya, pemasaran khusus seperti periklanan, petugas penjualan, atau penelitian pemasaran, perencanaan pemasaran, penerapan pemasaran, dan pengawasan pemasaran.   
Manajer pemasaran merupakan seseorang yang bertugas merangsang permintaan terhadap produk suatu usaha. Organisasi membentuk idenya tentang suatu tingkat transaksi yang diharapkan dengan sebuah sasaran. Manajer pemasaran mengelola sebaik-baiknya tugas dengan melakukan penelitian. Manajemen pemasaran mamiliki upaya secara sadar dalam mencapai hasil jual beli yang diharapkan sesuai sasaran.
Konsumen memiliki asumsi tertarik pada persedian produk secara meluas dan harga murah. Hal ini dapat dipertahankan sekurangnya dalam dua macam situasi. Pertama,  permintaan ini melebihi suplai dalam suatu produk.
 Pelanggan ini memiliki ketertarikan dalam memperoleh produk dibandingkan nilai produk tersebut[16]. Produsen lebih memusatkan perhatiannya pada penemuan cara untuk meningkatkan produksi. Kedua, permintaan ini lebih kepada biaya produk yang tinggi. Ia perlu menurunkan tingkatan produktivitas guna memperluas pasar.
Pembeli sangat mengagumi produk yang dibuat dengan baik. Ia berasumsi terhadap pembeli mengenai pembeli. Pembeli dapat menghargai kualitas produk dan penampilannya. Ia bersedia membayar produk yang tergolong istimewa itu dengan harga lebih mahal. Pembeli sangat terpukau pada sebuah produk. Ia tidak memahami keadaan pasar yang kurang penting dalam membeli produk tersebut. Ia beranggapan mungkin minatnya beralih kearah yang lain.
Manifestasi merupakan konsep produk yang paling umum. Konsep produk menyebabkan pemasaran dipandang dari sudut itu sendiri. Hal ini lebih diperhatikan pada produk ketimbang kebutuhan konsumen.
Konsep penjualan merupakan pendekatan umum yang dipakai oleh banyak usaha terhadap pasar. Ia beranggapan mengenai konsumen yang biasanya menunjukkan hasrat beli yang lemah. Pembeli menunjukkan penolakan dan perlu dibujuk atau diperlakukan dengan ramah dan sabar. Hal ini bertujuan agar pembeli berkeinginan untuk membeli.
Pemasaran yang dilakukan dengan kegiatan penjualan yang giat. Pemasaran ini mengandung resiko yang tinggi[17]. Ia beranggapan bahwa pelanggan yang dibujuk, diperlakukan dengan baik dan sabar untuk membeli suatu produk akan menyukai produk tersebut. Hal ini tidak membicarakan kecacatan produk tersebut kepada konsumen. Ia tidak menyampaikan keluh kesahnya kepada konsumen. Konsumen memungkinkan untuk kecewa terhadap produk tersebut. Hal ini merupakan pendapat konsumen yang tidak bisa menjamin kebenarannya.
Kekecewaan konsumen mengurangi daya minatnya untuk membeli. Hal ini menjadi kemunduran dalam proses pemasaran. Islam mengajarkan tentang kejujuran dalam berdagang. Rasulullah bersabda dalam hadis sebagai berikut.

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ اخْتَرْ وَرُبَّمَا قَالَ أَوْ يَكُونُ بَيْعَ خِيَارٍ

Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan) dalam jual beli selama keduanya belum berpisah". Atau Beliau bersabda: "(Selama belum berpisah) seorang dari rekannya". Atau Beliau bersabda: "Jual beli menjadi khiyar (terjadi dengan pilihan) ". (BUKHARI - 1967)
                Hadis di atas menjelaskan adanya kewenangan dalam membeli produk. Pembeli memiliki kewenangan dalam memutuskan antara jadi atau tidaknya dalam sebuah jual beli. Pembeli adalah seorang raja. Pedagang memperlakukan pembelinya seperti raja. Raja yang diperlakukan seramah dan sesabar mungkin. Pembeli memiliki kedudukan sesuai dengan raja dalam konsep perlakuannya.  
            Toko buku menjadikan sistem WOM (Word Of Mouth) sebagai media dalam menarik pelanggan. Sistem WOM bukan merupakan suatu gagasan baru. Toko buku menjadikan WOM sebagai kunci usaha dalam prmasaran. Pendekatan WOM merupakan cara pendekatan model baru. Pendekatan ini mengarah kepada pendekatan personal. Pendekatan ini memiliki efektifitas yang sangat kuat dalam menarik pembeli. Pembeli menjadikan referensi yang tepat untuk penjadi pelanggan tetap. Hali ini menjadi peluang dalam sistem WOM yang dilakukan pelanggan terhadap toko buku tersebut.
            Toko buku Bina Ilmu memberikan pelayanan serta kompensasi terhadap produk yang dibeli sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Ia memberikan kompensasi berdasarkan persetujuan dan syarat-syarat tertentu dalam perjanjian tersebut. Hal ini memiliki konsep dalam perjanjian komitmen. Konsep komitmen ini memiliki teori ekonomi yang disebut kedaulatan konsumen[18]. Pembeli merupakan penentu dalam proses produksi dalam perdagangan. Pedagang berusaha memproduksi kebutuhan konsumen. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan konsumen setinggi-tingginya. Perusahaan memperoleh laba dari aktivitas tersebut.
            Toko buku bina Ilmu tidak memaksakan kehendak pembelinya. Ia menawarkan dagangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat disekitar. Hal ini menjadikan pembeli yang beraneka ragam. Keanekaragaman ini meliputi;usia, pendapatan, tingkat pendidikan, pola perpindahan tempat dan selera. Penjual mampu membedakan kelompok konsumen yang berbeda. Perbedaan ini mampu mengembangkan produk dan jasa yang disesuaikan dengan kebutuhan pembeli[19].  Pembeli memiliki hak untuk meneruskan atau menghentikan transaksi kepada penjual, jika pembeli memiliki syarat atau hal yang bisa mempengaruhi transaksi tersebut. Toko buku menjadikan transaksi penjualan sesuai dengan pelayanan. Pembeli bertransaksi sesuai dengan hukum jual beli.
Jual beli merupakan transaksi yang sangat penting untuk pengesahan hak milik. Hak milik ini mengandung unsur manfaat dalam penggunaannya. Transaksi tidak memiliki syarat sah, jika salah satu pihak ada yang dirugikan. Rasulullah saw bersabda dalam hadis sebagai berikut.
حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عَجْلَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ وَعَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ وَعَنْ بَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ وَعَنْ رِبْحِ مَا لَمْ يُضْمَنْ
Telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ajlan dari 'Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam melarang dari menjual dengan jalan meminjamkan, dua perdagangan dalam satu transaksi, menjual sesuatu yang tidak ada di sisimu, dan mengambil keuntungan dari barang yang tidak bisa dijamin (keberadaannya).            (AHMAD – 6624)
            Hadis di atas menjelaskan konsistensi dalam membeli. Pembeli tidak diperbolehkan membeli dua perdagangan dengan satu transaksi. Transaksi ini menjadikan syarat dalam sah tidaknya suatu jual beli. Pembeli dilarang meminjam dari transaksi perdagangan. Hal ini menjadikan salah satu pihak di rugikan. Kerugian ini ditanggung oleh pedagang yang meminjamkan dagangannya kepada pembeli. Dagangan ini merupakan produk yang jelas atau terdapat nilai manfaat di dalamnya. Manfaat ini dirasakan oleh kedua pihak tanpa ada yang dirugikan.
            Kerugian yang melibatkan salah satu pihak mengurangi nilai manfaatnya. Pembeli memiliki etika dalam bertransaksi. Hal ini terdapat pada pembeli sebagai pelaku dalam penjualan produk. Produk yang dijual memberikan nilai kepuasan kepada pembeli, sehingga pembeli merasakan manfaat dari produk yang dibelinya[20].
            Pembeli memiliki ketertarikan dalam bertransaksi dengang penjual yang jujur dan amanah. Ia merasakan kenyamanan dengan suasana yang ramah dan bersahabat. Demikian ini menjadikan kepuasan tersendiri, jika pedagang memberi keringanan dalam bertransaksi. Rasulullah saw bersabda dalam hadis sebagai berikut.
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَن
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا مَاتَ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ فَقِيلَ لَهُ مَا كُنْتَ تَعْمَلُ قَالَ فَإِمَّا ذَكَرَ وَإِمَّا ذُكِّرَ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فَكُنْتُ أُنْظِرُ الْمُعْسِرَ وَأَتَجَوَّزُ فِي السِّكَّةِ أَوْ فِي النَّقْدِ فَغُفِرَ لَهُ فَقَالَ أَبُو مَسْعُودٍ وَأَنَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abdul Malik bin Umair dari Rib'i bin Hirasy dari Hudzaifah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa seorang laki-laki meninggal dunia kemudian dia dimasukkan ke surga, lantas dikatakan kepadanya, 'Apa amalanmu (sewaktu di dunia)? ' -ia menyebutkan atau disebutkan- Beliau bersabda: "Sesungguhnya dahulu saya pernah transaksi dengan orang-orang, lalu saya memberi tangguh kepada orang yang kesusahan dan mempermudah dalam urusan keuangan atau dalam pembayaran, oleh karena itu dosanya di ampuni." Abu Mas'ud berkata, "Dan saya mendengar hal itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."(MUSLIM - 2919)
Hadis di atas menjelaskan strategi pemasaran melalui keringanan yang dilakukan penjual terhadap pembeli. Pembeli membeli suatu produk dengan intensitas kebutuhan yang sangat beragam.[21] Ia membeli produk yang pokok maupun hanya untuk kebutuhan pelengkapan semata. Ia membutuhkan produk pokok demi memenuhi kebutuhannya. Pedagang yang memberi ketangguhan terhadap pembeli dengan ekonomi yang mendesak. Pedagang yang mengikhlaskan produknya terhadap pembeli yang sangat membutuhkan produk tersebut. Hal ini menjadi nilai pahala tersendiri terhadap pedagang tersebut. Pedagang memiliki peluang besar untuk membantu pembeli dalam meningkatkan kualitas kesejahteraan.
Toko buku memberi pelayanan yang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun ia memberikan kontribusi ilmu dalam mencerdaskan pembeli. Toko buku menyiapkan buku bacaan disela-sela waktu tunggu pembeli. Ia menyediakan buku-buku tersebut disela-sela pembeli menunggu produk yang dibelinya. Hal ini bertujuan agar pembeli tidak jenuh dalam masa menunggunya. Pedagang berusaha mengamati kelompok referensi dari para pembelinya. Pembeli dipengaruhi oleh kelompok referensi sekurangnya melalui tiga cara. Pertama, pembeli menghadapkan pada perilaku dan gaya hidup. Kedua, pembeli mempengaruhi sikap dan gambaran diri. Pembeli dipengaruhi secara normal yang diinginkan untuk menyesuaikan diri. Ketiga, kelompok referensi ini menciptakan suasana untuk penyesuaian suatu produk.[22] Produk ini menjadi media dalam menarik pembeli sebagai pelanggan tetap.
Toko buku menjadikan sistem membaca dalam menunggu sebagai suatu sistem. Sistem pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pemasaran. Hal ini menjadi peluang bagi toko buku Bina Ilmu Kediri. Ia menjadikannya suatu proses pelayanan untuk meningkatkan strategi pemasaran dalam produk.     
 Kesimpulan
Strategi pemasaran sangat diperlukan dalam meningkatkan volume penjualan. Volume penjualan ini memiliki pengaruh besar terhadap perputaran modal untuk mendapatkan suatu produk. Toko buku menjadikan pelayanan dan harga produk sebagai media untuk strategi bisnis. Strategi ini mengarah pada dua lingkup sistem, namun sistem ini memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Sistem pelayanan ini menarik pembeli melalui kenyamanan dalam bertransaksi. Sistem harga produk menjadikan media dalam menarik pembeli dari sisi perekonomian.
 Kualitas produk berperan penting terhadap kepuasan pembeli. Kualitas produk merupakan faktor paling utama. Ia merupakan faktor pertama kali yang diperhatikan ketika berhadapan dengan masyarakat kota. Masyarakat desa lebih mengabaikan faktor kualitas. Ia mementingkan faktor harga dalam mempertimbangkan produk yang dibelinya. Masyarakat desa memiliki selera yang sederhana dalam memutuskan untuk membeli. Hal ini memiliki perbedaan dengan masyarakat kota. Masyarakat kota memiliki selera tinggi dalam kualitas pembeliannya, sehingga dibutuhkan keseimbangan dalam strategi penjualan. Keseimbangan ini berfungsi untuk meningkatkan pelayanan. Pelayanan ini memiliki dua kompenen penting di dalamnya. Kompenen ini memiliki peran penting di dalam strategi pemasaran. Kompenen penting melingkupi; kualitas produk,  harga produk, pelayanan dalam melayani pembeli. Hal ini menjadi kompenen penting dalam toko buku Bina Ilmu Kediri.

           


[1]  Andi Cahyo, “Analisis Pengaruh Relationship Marketing terhadap loyalitas pelanggan Toko Buku Togamas Solo”, Jurnal Pemasaran, No.4 Vol 1 (Maret 2013),. hlm. 11-19.
[2]  Lukman Hakim, “ Penempatan WOM(Word Of Mouth) Strategi pemasaran pada took buku Diskon Togamas”, Skripsi, Universitas Brawijaya progam studi Ekonomi Bisnis, 2013,.hlm 20-24
[3]  Ni Made Hartini, “Pengaruh Bauran Pemasaran Ritel terhadap keputusan pelanggan membeli buku (studi kasuspada took buku Diskon Togamas Denpasar)”, Jurnal, No. 1 Vol. 4 (Februari 2015),. Hlm 1-7.
[4]  Endah Oktavianto, “ Strategi bauran promosi pada tokok buku Diskon Togamas Margorejo Surabaya”, Skripsi, Universitas Surabaya progam studi Ekonomi Bisnis, 2010,.hlm 16-18
[5]  Ayu Meida dan Jauhari, “Aplikasi M- Commerce untuk penjualan buku pada suatu took buku berbasis WEP(Wireless Application Protocol) service dengan media handphone”, Jurnal, No. 02 Vol.03(Oktober 2011),. hlm. 5-8. 
[6]  Maya Safitri, “Perancangan prototipe aplikasi berbasis WEB untuk promosi dan pemasaran toko buku online (studi kasus di PT. Penerbit IPB Press)”, Tesis, 2012,.hlm 7-10
[7]  Nelky Pongngalla, “Strategi pemasaran PT. Gramedia Asri Media Royal Plaza Surabaya dalam bersaing dan meningkatkan omset”, Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Progam studi Administrasi Bisnis, 2013,.hlm 50-55
[8]  Fajar Rivai, “ Sistem penjualan buku pada toko buku Salemba berbasis WEB”, Skripsi, Universitas Dian Nuswantoro Progam studi Teknik Informatika, 2013,.hlm 12-14
[9]  Lia Handayani, “ Strategi pemasaran toko u PUISMA UTAMA (Studi kasus merancang strategi promosi untuk meningkatkan omset), Jurnal, No. 05 Vol. 01(April 2013),.hlm 40-45
[10]  Fikri Nor Fahmi, Hj. Syariah Hudayah dan Muhammad Washil, “ Kualitas layanan terhadap kepuasan konsumen pada toko buku Gramedia Lembuswana”, Tesis, Universitas Airlangga Progam studi Ekonomi Bisnis, 2011,.hlm 36-38
[11] Jaman, “Sistem informasi penjualan buku pada toko buku GANESHA Purwokerto menggunakan metode object  oriented programming”, Jurnal, No.03 Vol. 01 (April 2014),.hlm 1-10
[12]  Erni Widjaja, Metodologi Pemasaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996),.hlm. 241

[13] Indriyo Gitosudarmo, Pengantar Bisnis Edisi 9, (Yogyakarta: BPFE, 2008),.hlm 66.
[14]  Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran Edisi kedua Cetakan Kedua, (Yogyakarta: Andi Offset,
2000),.hlm 198
[15]  Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: Erlangga, 1994),. Hlm. 17

[16]  Philip Kotler, Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian
Jilid 2 Edisi Keenam. (Jakarta: Erlangga, 2003),.hlm 193.
[17]  Ibid,. 191
[18] Basu Swastha Dharmestha dan T. Hani Handoko, Azas-Azas Marketing, (Yogyakarta: Penerbit
Liberty, 2003),.hlm 77.
[19]  S.H. Rewolt, Strategi Promosi Pemasaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000),.hlm 2.
[20] Marwan Asri, Marketing. (Yogyakarta: 1991),.hlm 198.
[21] Surya Dharma, Manajemen Kinerja, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009),. hlm 79.
[22]  Ibid,. 167